Jangan Menjadi Spesialis Runner-Up

Pradikta Andi Alvat

Pecinta PSM Asal Kabupaten Rembang Jawa Tengah

Latest posts by Pradikta Andi Alvat (see all)

28 Juli mendatang akan menjadi sebuah hari yang ditunggu-tunggu oleh segenap suporter dan para pencinta klub PSM Makassar dimanapun berada. 28 Juli nanti akan menjadi hari penentuan akankah Juku Eja mampu berpesta di Mattoanging sekaligus menuntaskan rindu dan dahaga juara yang telah tersemat 19 tahun lamanya di benak dan hati para suporter dan pencinta PSM.

Atau sebaliknya, 28 Juli mendatang akan menjadi hari di mana PSM Makassar kembali “terpaksa” merelakan piala yang sudah berada di depan mata kepada klub lain, dalam hal ini Persija Jakarta sekaligus memperpanjang getir rindu akan sebuah kehormatan menjadi sang juara.

Jika peristiwa kedua yang terjadi, maka dapat dipastikan tangisan sendu akan kembali mengalir di mata para pemain, manajemen, staff pelatih, dan khususnya suporter dan pencinta PSM. Bagaimana tidak, dua musim berturut-turut kita nyaris melihat PSM juara namun pada akhirnya gagal. Pada liga 1 musim 2017 PSM finis di posisi ketiga dan pada musim 2018 lalu PSM finis di posisi “langganan” yakni juara kedua alias runner-up. Mengapa juara kedua alias runner-up saya sebut sebagai posisi langganan PSM, karena faktanya PSM adalah klub peraih runner-up terbanyak di liga Indonesia yakni sebanyak 5 kali (1995-1996, 2001, 2003, 2004, 2018). Semoga saja 28 Juli nanti PSM bisa benar-benar juara bukan hanya sekadar kata“nyaris”.

Ya, 28 Juli mendatang menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh segenap suporter dan pencinta PSM dimanapun berada (termasuk saya) karena pada tanggal tersebut akan dihelat partai final leg kedua Piala Indonesia antara tuan rumah PSM Makassar melawan tamunya Persija Jakarta di Stadion Mattoanging Makassar. Juku Eja akan gantian menjamu sang lawan tim ibukota Macan Kemayoran.

Pada leg pertama lalu Macan Kemayoran  yang bertindak sebagai tuan rumah berhasil mempecundangi Juku Eja dengan skor tipis 1-0. Laga ketat yang tersaji di Stadion Gelora Bung Karno 21 Juli lalu menjadi saksi keperkasaan Persija atas PSM. Dengan tertinggal agregat 1-0 tentu PSM setidaknya harus mampu menggulung Persija dengan skor 2-0 pada leg kedua 28 Juli nanti guna mengamankan gelar juara. Kekalahan 1-0 di Jakarta 21 Juli lalu mengharuskan PSM untuk bermain hati-hati sekaligus agresif pada leg kedua nanti.

Hati-hati tentunya agar tidak kebobolan, karena jika sampai kebobolan akan menjadi sebuah kondisi yang lebih menyulitkan bagi PSM, kebobolan 1 gol saja, maka PSM harus mencetak minimal 3 gol ke gawang Persija jika ingin juara. Di sisi lain, PSM mau tidak mau juga harus bermain agresif guna mengejar dan membalikkan defisit gol atas Persija. Minimal, PSM harus mampu menjaringkan dua gol ke gawang Persija tanpa kebobolan jika ingin langsung juara tanpa babak perpanjangan atau adu penalti. Dengan kondisi demikian (unggul agregat 1-0), Persija banyak diprediksi akan bermain lebih bertahan dengan mengandalkan serangan balik. Tentunya hal ini harus di waspadai oleh lini pertahanan PSM mengingat lini depan Persija di huni oleh pemain-pemain berkualitas, seperti Simic, Riko Simanjuntak, dan Bruno Matos.

Pada final leg kedua 28 Juli mendatang kekuatan PSM juga sedikit pincang dengan bakalabsennya 2 pemain kunci PSM. Sang metronom Wiljan Pluim diprediksi absen karena masih dibekap cedera kalaupun dipaksa main tentu performanya tidak akan maksimal sedangkan gelandang pengangkut air Marc “gladiator” Klok dipastikan absen lantaran akumulasi kartu. Absennya dua pemain kunci PSM tersebut tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi kekuatan Juku Eja, apalagi pelapis lini tengah hanya ada Rasyid Bakri dan M. Arfan. Akan tetapi, sebagaimana hakikat dan marwah partai final, Partai final adalah pertandingan mental bukan sekadar partai teknik dan skill. Oleh karenanya, partai 28 Juli mendatang akan menjadi saksi siapakah diantara PSM dan Persija yang lebih memiliki mental juara. Mental akan menjadi aspek penentu dalam jalannya pertandingan nanti.

Bermain di Mattoanging, stadion yang terkenal angker bagi tim tamu dengan dukungan puluhan ribu suporter fanatik PSM yang lapar akan gelar juara semoga saja bisa membakar mental dan semangat bertanding para pemain PSM. Pemain PSM harus bermain dengan semangat sirri na’ pacce yakni bertanding bukan sekadar untuk menang dan meraih juara namun juga demi kehormatan dan harga diri masyarakat Sulawesi Selatan.

Dalam falfasah Bugis ada sebuah petuah sakral yang berbunyi: Resopa temmangingi na malomo naletei pammase dewatae yang artinya: hanya perjuangan dan kerja keras yang terus menerus yang akan mendapatkan ridho dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh karenanya, pesan saya kepada para pemain PSM, bermainlah dengan hasrat juara, ambisi membara, gairah menyala, hati nan penuh keyakinan, bertarung demi kerhormatan dan harga diri baik harga diri pribadi (sebagai pemain), harga diri klub, dan harga diri masyarakat Sulawesi Selatan sebagai tanah leluhur klub PSM Makassar. Berjuanglah dengan perjuangan dan kerja keras yang habis-habisan bahkan berdarah-darah sekalipun agar ridho Tuhan Yang Maha Kuasa menghendaki PSM menjadi juara.

19 tahun adalah waktu yang sangat teramat lama bagi klub sebesar PSM menahan puasa juara. Kini gelar juara itu telah ada di depan mata. Jangan sia-siakan kesempatan itu atau menyesal selamanya.

Akhir kata, jangan menjadi spesialis runner-up. #28JuliHarusJuara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *