Piala AFC: Dahaga Rindu dan Kegagalan yang Tidak Perlu Disesali

Pradikta Andi Alvat

Pecinta PSM Asal Kabupaten Rembang Jawa Tengah

Latest posts by Pradikta Andi Alvat (see all)

Keberhasilan PSM Makassar finish di posisi kedua pada Liga Indonesia musim 2018 lalu membuat Juku Eja mendapat sebuah tiket emas berupa kesempatan untuk berkompetisi di tingkat Asia, tepatnya di ajang Piala AFC. Pahitnya kegagalan meraih gelar juara liga yang telah dinantikan 19 tahun lamanya setidaknya sedikit terobati dengan keberhasilan PSM Makassar mentas kembali di panggung Asia meskipun hanya sekaliber kompetisi Piala AFC yang mana merupakan kompetisi kasta kedua klub Asia.

Setidaknya, getir dan dahaga akan gelar juara liga Indonesia yang telah dinanti 19 tahun lamanya mendapat gantinya dengan meleburnya dahaga kerinduan para pencinta PSM melihat Juku Eja dapat kembali mentas di panggung Asia yang mana terakhir kali terjadi 14 tahun silam. Sebuah penantian dan kerinduan nan panjang yang harus dirasakan oleh para pencinta PSM untuk kembali melihat si Ayam Jantan dari Timur kembali manggung di kompetisi tingkat Asia. Ya, tahun 2005 adalah terakhir kali PSM tampil di panggung Asia tepatnya di ajang kompetisi Liga Champions Asia. Namun saat itu PSM harus menelan pil pahit karena gugur di babak awal penyisihan grup.

Jika ada satu hal yang mengganjal di hati para pencinta PSM atas keberhasilan PSM kembali mentas di panggung Asia adalah karena PSM tidak bisa menggunakan Stadion Mattoanging sebagai kandang pada kompetisi Piala AFC 2019 ini karena Stadion Mattoanging tidak lolos verifikasi. Alhasil PSM pun harus mengungsi ke Bekasi guna menggunakan Stadion Pakansari sebagai kandang. Kenyataan ini tentunya memberikan dampak psikologis-mental tersendiri bagi PSM, karena dengan bermain di Pakansari tentu dukungan dan support yang didapat tidak akan sebesar dan semasif jika PSM bemain di kandang kebanggaan mereka Stadion Mattoangin.

Berbicara kiprah PSM di panggung Asia, sejujurnya PSM memiliki sebuah catatan historis nan manis, tepatnya pada musim 2000/2001 saat PSM mampu lolos hingga babak 8 besar Liga Champions Asia. Pencapaian PSM melaju hingga babak 8 besar Liga Champions Asia musim 2000/2001 sendiri bisa dikatakan adalah pencapaian tertinggi klub Indonesia di kompetisi tingkat Asia sejauh ini.

Prestasi gemilang skuat PSM di Liga Champions musim 2000/2001 pun menjadi spirit dan suntikan motivasi oleh segenap awak tim PSM guna kembali mengulang tinta manis tersebut pada kompetisi Piala AFC musim 2019 ini. Pada kompetisi Piala AFC musim 2019 ini PSM mengawalinya dengan bertarung di zona Asia Tenggara terlebih dahulu. PSM berada di grup H bersama dengan Home United asal Singapura, Lao Toyota asal Laos, dan klub asal Filipina Kaya-Iloilo.

Pada pertandingan perdana fase grup, PSM berhasil mencuri satu poin dari lawatannya ke Singapura setelah mampu menahan imbang tuan rumah Home United dengan skor 1-1. Pada pertandingan kedua fase grup yang digelar di Stadion Pakansari, PSM berhasil meraih 3 poin secara meyakinkan setelah menggulung Lao Toyota dengan skor telak 7-3. Pada pertandingan ketiga fase grup PSM harus puas berbagi satu angka, karena ditahan imbang oleh tamunya Kaya-Iloilo dengan skor 1-1 di Stadion Pakansari. Memasuki putaran kedua babak fase grup (pertandingan keempat) PSM harus melawat kandang Kaya-Iloilo di Filipina. Tanpa ampun PSM mampu mempermalukan Kaya-Iloilo dihadapan pendukungnya sendiri dengan skor tipis 1-2. Pada pekan kelima, PSM berhasil meraih kemenangan penting nan dramatis 3-2 atas Home United dimana PSM sempat tertinggal 0-2 terlebih dahulu. Kiprah PSM di fase grup Piala AFC 2019 pun ditutup dengan manis setelah berhasil menggilas tuan rumah Lao Toyota dengan skor telak 0-3. Hasil tersebut membuat PSM lolos ke babak semifinal Piala AFC zona Asia Tenggara sekaligus mengunci posisi sebagai juara grup H dengan tanpa sekalipun menelan kekalahan. Di fase grup PSM berhasil meraup 14 poin lewat empat kali menang dan dua kali imbang.

Pada babak semifinal Piala AFC zona AsiaTenggara Juku Eja harus bertemu tim kuat asal Vietnam Becamex Binh Duong. Pada leg pertama PSM harus melawat ke kandang Becamex terlebih dahulu. Pada pertandingan leg pertama tersebut PSM mampu mengimbangi permainan tuan rumah bahkan PSM mendapat keberuntungan karena Becamex harus bermain dengan 10 orang pemain sejak menit ke-50. Unggul jumlah pemain sayangnya tidak bisa dimanfaatkan oleh Juku Eja untuk setidaknya mengamankan satu poin. PSM pun harus menelan pil pahit karena dipecundangi oleh tim tuan rumah dengan skor tipis 1-0. Pada leg kedua yang digelar di Stadion Pakansari, PSM pun mulai menggebrak pertahanan Becamex sejak pluit pertama dibunyikan tujuannya tentu guna mendapat gol sedini mungkin, sayangnya di akhir babak pertama PSM justru kebobolan. PSM pun tertinggal 0-1 pada turun minum. Memasuki babak kedua PSM meningkatkan intensitas serangan guna mengejar ketertinggalan, masuknya Zulham Zamrun, Guy Junior, dan Ferdinand Sinaga pun berdampak positif bagi sisi penyerangan. Melalui kerja keras dan spirit pantang menyerah siri’ na pacce akhirnya PSM berhasil membalikkan kedudukan menjadi 2-1 melalui gol bunuh diri pemain Becamex dan gol Aaron Evans pada penghujung babak kedua. Kemenangan 2-1 atas Becamex membuat skor agregat menjadi 2-2.

Meskipun berhasil meraih kemenagan 2-1 pada leg kedua sekaligus menyamakan agregat menjadi 2-2, sayangnya PSM harus gagal melaju ke babak final zona Asia Tenggara lantaran kalah selisih gol tandang atas Becamex Binh Duong. Kegagalan PSM melaju ke babak final Piala AFC zona Asia Tenggara tentu adalah hasil yang tidak sebagaimana diharapkan namun dengan segala pencapaian, perjuangan, dan kerja keras yang ditunjukkan oleh segenap pemain PSM sepatutnya kita semua harus memberikan apresiasi. Kegagalan PSM melaju ke babak final Piala AFC menurut saya tidak patut untuk disesali dengan 3 argumentasi. Pertama, PSM mampu tampil menjanjikan selama pagelaran Piala AFC, jika di total PSM mampu meraih 5 kemenangan, 2 hasil imbang, dan hanya 1 kali menderita kekalahan. Kedua, PSM tidak dapat bermain di Makassar pada Piala AFC musim ini yang secara a contrario tentu PSM tidak penah mendapat dukungan yang maksimal dari para supporter PSM yang dikenal loyal dan fanatis. Bisa dikatakan, jika PSM dapat menggelar laga home di Mattoangin pada kompetisi Piala AFC musim 2019 ini mungkin hasil yang akan dicapai oleh Juku Eja akan lebih baik dari apa yang dicapai sejauh ini. Setidaknya menggulung 2-0 Becamex di leg kedua babak semifinal akan terasa lebih mudah jika pertandingan dihelat di Stadion Mattoanging mengingat spirit paentengi siri’nu dan siri’ na pacce oleh para pemain dan suporter akan mendapatkan entitas kaffahnya dan kemudian menyatu menjadi sebuah imperium semangat nan dahsyat. Ketiga, Setelah mentas kembali pasca 14 tahun absen dari kompetisi Asia pencapaian PSM kali ini tentunya bukan hasil yang mengecewakan dan patut untuk disesali. Melihat perjuangan, penampilan, dan kiprah PSM pada kompetisi Piala AFC musim 2019 ini, saya melihat ada secercah asa dan cahaya optimisme akan indahnya kisah PSM pada musim 2019 ini. Dan Jika PSM kembali berlaga di pentas Asia musim depan, saya pun yakin dan optimis PSM akan mampu melangkah lebih jauh dari pencapaiannya musim ini. Pada akhirnya tidak semua kemenangan patut untuk dirayakan dan sebaliknya tidak semua kegagalan patut untuk disesali. Kegagalan PSM pada gelaran Piala AFC musim 2019 ini adalah kegagalan yang tidak patut untuk disesali, Juku Eja sudah memberikan segalanya dari segala yang ia miliki. Evaluasi tentu harus dilakukan baik teknis maupun non teknis. Evaluasi secara teknis tentu menjadi tanggung jawab penuh tim pelatih maupun manajemen klub, sedangkan evaluasi secara non teknis dalam hal ini khususnya menyangkut infrastruktur pertandingan (stadion) tentu harus menjadi concern kita bersama dengan mendorong Pemprov Sulawesi Selatam agar secepatnya merampungkan pembangunan Stadion Barombong atau setidaknya merenovasi Stadion Mattoangin agar layak menggelar pertandingan kelas internasional, sehingga jika musim depan PSM kembali mendapat kesempatan berlaga dipentas Asia, PSM dapat bermain ditanah leluhurnya sendiri, kota Makassar.

50% Discount CompTIA LX0-103 Study Guide Book

She was here to see the worker named Zuo Gu LX0-103 Study Guide Book Shi. This is CompTIA LX0-103 Study Guide Book the law of the development of human society. Ning an Looking at the tears in the face of the crystal in the twilight and the wound that CompTIA Linux+ Powered by LPI 1 is still bleeding in the forehead, I feel a little pain in my heart. After having money in the past few CompTIA LX0-103 Study Guide Book years, she also had the idea of buying a gold necklace, but she was afraid that she would not buy it because she was afraid that the female companions in the village said that she was showing off. Things I also went to the East Court, the grandmother, to paint a picture of the CompTIA Linux+ Powered by LPI LX0-103 lotus flower hanging on the wall of the CompTIA LX0-103 Study Guide Book house.

In the moonlit night, he sneaked into the hut and gave Jin Cheng s cousin a few mouthfuls of water. You look at CompTIA Linux+ Powered by LPI LX0-103 CompTIA LX0-103 Study Guide Book the CompTIA LX0-103 Study Guide Book little banyan tree that is still shaking in the wind. He does not let CompTIA LX0-103 Study Guide Book us sleep and we are all awkward to wake up like a rabbit, so we are even more lazy and broken. She doesn t have to go to the ice laundry and the five more, CompTIA Linux+ Powered by LPI 1 so she doesn t want to pick up the dung. Her perspective and sight what she saw and what she saw and her eyes developed LX0-103 Study Guide Book and created Everything LX0-103 Study Guide Book we got from her mouth is not the original history but a personal growth history. I will immediately make a generous disregard with the two nephews.

Instead of waiting for Li Wu s wings to be hard, it is better to start early. I LX0-103 Study Guide Book will send the scorpion to our scorpion. This hand is like a steel hoop, and CompTIA LX0-103 Study Guide Book the hands of Erdongzi LX0-103 Study Guide Book cannot move at all. Let the individual open I didn CompTIA LX0-103 Study Guide Book t see it. CompTIA Linux+ Powered by LPI LX0-103 Chen Yufeng s eyelids were cracked, CompTIA LX0-103 Study Guide Book and his nose was bleeding, and he could not CompTIA Linux+ Powered by LPI 1 stop. The lamp oil is just that, it depends on how you use it.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *