Juku Eja: Talent Scouting, Grassroots, atau Akademi?

Andi Mawardi Wahab

Andi Mawardi Wahab

Pernah bercita-cita jadi Ronald Fagundez, Penghuni tribun terbuka Mattoanging.
Andi Mawardi Wahab

Latest posts by Andi Mawardi Wahab (see all)

Tampil di panggung Asia bagi PSM Makassar tampaknya harus ditunda dulu. Meski secara torehan poin duduk manis di peringkat ketiga klasemen Liga 1 2017, yang di mana secara otomatis berhak berlaga di AFC Cup, namun lisensi AFC klub kebangaan Kota Makassar dan Sul-Sel tanpaknya belum menginginkan hal tersebut. Dikutip dari akun @pengamatsepakbola via instagram, klub tertua di Indonesia tersebut terkendala masalah sporting atau pembinaan pemain usia muda. Cerita lain juga datang dari kiprah PSM U-19 dari gelaran Liga U-19 tahun ini, di mana Ramang Muda harus tersingkir di penyisihan grup 3, ditambah menjadi lumbung gol tim lawan.

Menyongsong musim 2018 tentu beberapa permasalahan tersebut harus segera dicarikan jalan keluar oleh pengurus PT. Persaudaraan Sepakbola Makassar (PSM). Masalah kini mengerucut pada pertanyaan tentang langkah mana yang harus dimaksimalkan apakah talent scouting dalam bentuk seleksi di Makassar dan daerah lain, pembinaan pemain usia dini dalam bentuk akademi PSM Makassar dalam berbagai jenjang usia, ataukah memaksimalkan program grassroot dalam bentuk kerja sama dengan komunitas, klub, atau bahkan SSB yang ada. Mungkin permasalahan ini pulalah yang menjadi batu sandungan federasi tertinggi Indonesia (PSSI) dalam mengangkat prestasi Timnas Garuda, yang seolah jalan di tempat saja. Hal ini di mana belum berkembang dan tersebarnya patron maupun pemetaan yang jelas tentang program pengembangan pemain usia dini di negeri ini.

Talent Scouting

Program talent scouting dalam bentuk seleksi di Indonesia merupakan primadona sampai hari ini. Kelebihan utama yang menjadikan program ini masih sering ditemuai adalah efisiesi waktu dan biaya. Pelatih kepala timnas U-19 semasa persiapan gelaran AFF U19 2013. Indra Sjafri bersama tim terjun langsung melakukan seleksi di berbagai penjuru daerah. Langkah Coach Indra Sjafri berbuah manis, kala Timnas Garuda Jaya kala itu mengandaskan Vietnam U-19 di partai puncak dan merengkuh trofi bergensi tersebut. Harus diakui memang jika langkah tersebut dianggap tepat kala pemain berbakat yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dan tidak pernah mendapat sorotan, karena hanya mempertontonkan aksi mereka dalam sepakbola jalanan atau bahkan turnamen antar kampung yang musiman. Serta bagaimana Indra Sjafri dalam menghadapi tuntutan pembentukan skuat dengan batasan waktu dan kondisi serba terbatas. Kondisi geografis indonesia pula yang begitu luas terbagi ribuan pulau mendukung langkah tersebut.

Selain kelebihan dari segi efisiensi waktu dan biaya yang ditawari oleh program seleksi talent scouting, ketidakjelasan kompetisi kelompok umur juga mendukung hal tersebut. Kita dapat melihat sendiri bagaimana sejak gelaran ISC tahun lalu, Indonesia yang baru saja lepas dari hukuman FIFA, seiring berjalannya kompetisi ISC A dan ISC B langsung memutuskan menggelar kompetis kelompok usia ISC U-21. Padahal beberapa tahun sebelumnya semasa dibekukan kompetisi kelompok usia hanya segelintir yang mengadakan bahkan turnamen antar kampung dan regional yang selama ini menjadi sarana pemain muda beradu, malah diisi oleh pemain profesional akibat kekosongan liga resmi kala itu, seperti Habibie Cup. Tentu dengan keputusan mendadak tersebut klub-klub peserta ISC yang baru saja menyusun kembali tata kelola klub mereka paska pembekuan liga dan federasi, yang diwajibkan mengirim wakilnya ramai-rami melakukan seleksi.

Permasalahan dari talent scouting sendiri adalah langkah tersebut bukanlah pilihan pertama dan utama di negera yang adidaya dalam sepak bola seperti Jerman dan Spanyol, beserta beberapa negara lainnya di Eropa. Klub-klub profesional Eropa lebih memilih mengembnagkan akademi masing-masing guna mempersiapkan pondasi skuat mereka di masa mendatang. Sementara di sisi lain federasi dari FIFA, UEFA, AFC, rutin mengampanyekan program grassroots. Masalah lainya ketika keberlanjutan kompetisi kelompok usia yang sangat tidak jelas di Indonesia, tim yang terbentuk dari proses seleksi pasca turnamen tertentu sering dibubarkan begitu saja. Kita bisa ambil contoh dari kompetisi ISC U-21 yang lalu ketika tahun ini operator liga memutuskan menggelar kompetisi U19, tidak sedikit klub yang juga meninggalkan tim U21-nya yang beralih fokus ke tim U19, sebab kompetisi nasional kelompok U21 tahun kini tidak jelas.

Harus diakui masih banyak faktor yang menjadikan talent scouting beresiko. Ditambah pula masalah klenik dengan membawa isu doi dan dekkeng yang menjadikan proses seleksi yang rawan praktik kolusi dan nepotisme. Hal tersebut pula sempat berkembang kala sebagian suporter PSM menanggapi torehan hasil minor PSM U-19 di gelaran Liga U-19 tahun ini, meskipun telah dibantah dengan keras oleh jajaran manajemen, dan tidak ada bukti nyata satupun hingga hari ini bahwa hal tersebut terjadi. Meskipun manajemen telah menetapkan tetap menggunakan langkah talent scouting guna mengumpulkan pemain muda U-19 untuk tahun depan (25 november – 10 desember 2017), namun keseriusan dalam pelaksanaan seleksi tersebut sangat diharapkan serta standar proses seleksi yang ditetapkan jelas dan tidak berbeda-beda di setiap dareah. Tujuan seleksi pun diharapkan bukan hanya semata-mata meraih gelar juara Liga U-19 tahun depan namun untuk mendapatkan sekumpulan pemain berbakat dan bisa terus dikembangkan agar menjadi tulang punggung PSM di masa yang akan datang.

Grass Root dan Football Academy

Dalam sepakbola sendiri istilah grassroots bagaimana memaksimalkan komunitas dan kelompok pembinaan sepak bola mulai dari tingkat usia dini dan berbagai jenjang usia di sekitar untuk tujuan menopang tim nasional ataupun suatu klub tertentu. Program grassroots memang kini telah mendapatkan perhatian serius dari federasi mulai dari FIFA, UEFA, hingga AFC. Laman resmi FIFA sendiri telah menampilkan program grassroots dengan mengusung tema football for everyone lengkap beserta pedoman dalam pengaplikasian program tersebut. Dengan membawa 5 filosofi: Footbal is for everyone, fun, played everywhere and everytime, school of life, dan lets kids be the kids FIFA memang mencoba mengembangkan program tersebut dengan sangat serius, serta mencoba membawa sepakbola untuk turut berperan serta dalam pengembangan masyarakat khususnya anak sejak usia dini.

Grassroots menitik beratkan bagaimana sepakbola dapat dinikmati sebagai hobby dan kesenangan sejak usia dini (6-12 tahun) melalui 3 bentuk: terorganisir, semi-teroganisir, maupun informal. Harus memang dipahami bahwa program ini bagaimana FIFA mencoba mengambil langkah yang bertujuan agar di seluruh dunia terdapat pedoman dalam pelaksanaannya. Hal tersebut memang diperlukan agar mencegah kesalahan penanganan pemain sejak usia dini yang dapat berakibat mematikan kondisi psikologis, karier, dan bakat. Memasuki jenjang usia 13-21 tahun pemain barulah dimasukkan dalam akademi dengan tujuan agar pembekalan teknik dan dasar-dasar sepak bola pada tataran tingkat lanjutan (kompetisi). Hal itupulah sehingga kita melihat kompetisi resmi jenjang usia yang diadakan FIFA baru dimulai dari kelompok U13-U21, seperti yang digambarkan pada pyramid dibawah (resources.fifa.com/mm/document/footballdevelopment).

Momentum kebangkitan PSM Makassar tahun ini memang sangat pas untuk merevitalisasi program pembinaan usia dini di klub Juku Eja tersebut. Kegagalan tampil di panggung Asia dengan alasan pembianan pemain usia dini juga menajadi alasan kuat guna serius dalam melihat persoalan ini. Kelompok SSB memang sudah tersebar hingga puluhan jumlahnya di setiap sudut Kota Makassar ditambah berbagai daerah di Sulsel. Kerja sama antara Manajemen PT. PSM dengan kelompok SSB tersebut tentu menjadi pemecahan masalah program grassroots, Makassar sendiri tentu sudah terkenal akan kehandalan SSB-nya seperti SSB Hasanuddin dan yang legendari seperti Makassar Football School 2000 yang sempat mencicipi kompetisi internasional bertajuk Danone Cup di Prancis.

Akademi pembianaan pemain klub memang persoalaan lebih pelik harus ditemui. Sebagian klub profesional di Indonesia saat ini baru akan memiliki pembinaan jenjang usia ketika berkewajiban dalam mengirim perwakilan dalam suatu kompeti liga, disaat klub-klub top Eropa memiliki pembinaan kelompok usia permanen mulai dari U-13, U-15, U-17, U-19, dan U-21. Membandingkan kondisi sepak bola nasional dengan kondisi di Eropa memang seperti bumi dan langit, terlalu timpang perbedaanya. Kejelasan akan kompetisi jenjang usia di Eropa sangat bagus dan sudah jadi agenda federasi mereka tiap tahunnya, hal itulah yang memberi ranah seluas-luasnya bagi klub profesional untuk berinvestasi dana yang tidak sedikit dan mengembangkan akademi mereka.

Harus diakui dalam pelaksanaan program baik grassroots ataupun akademi klub membutuhkan investasi dana yang tidak sedikit. Selain itu kesabaran dan konsistensi juga diharapakan dalam pelaksanaannya, untuk dapat merasakan manfaatnya membutuhkan waktu sedikitnya 10 tahun kedepan. Kondisi lain bagaimana pemetaan arah pembinaan usia dini yang belum jelas oleh PSSI memnambah permasalahan. Suatu kerugian besar tentu saja ketika klub berinvestasi dan membentuk akademi sepak bola mereka di beberapa jenjang usia namun tidak ada kompetisi sebagai parameter perkembangannya. Kehadiran kompetisi jenjang usia yang baik tentu akan memberikan pengaruh besar. Pengelolaan Premier League Youth di Inggris yang begitu bagus hampir menyamai pengelolaan liga utamanya, membuat pemain muda berbakat terus bermunculan di Inggris dari tahun ke tahun, atau bagaimana Lionel Messi dan Cesc Fabregas ketika masih muda bahu membahu dalam kompetisi jenjang usia di klub Barcelona Muda hingga bisa seperti hari ini.

Perencanaan memang harus dipersiapkan secara matang serta melibatkan seluruh aspek. FIFA telah menerbitkan pedoman yang jelas, baik program grassroots dalam laman resminya ataupun pembinaan akademi melalui manual book youth football. Dalam pedoman tersebut telah jelas menggambarkan bagaimana pedoman ditunjukan ke berbagai pihak mulai dari pemain sebagai peserta (sasaran), strategi, teknik dasar, pelatih usia dini, hingga asosiasi atau federasi yang terlibat termasuk klub. Klub seperti PSM tentu berkewajiban menetapkan standar yang jelas dan terarah untuk akademinya serta untuk SSB yang dirangkul dalam program grassroots bila ingin menpalikasikan hal tersebut. Mungkin klub-klub di Indonesia tidak harus langsung mengaplikasikan secara ideal program dari FIFA ataupun seperti klub top Eropa, namun tidak ada salahnya jika diaplikasikan perlahan sembari menunggu dan menuntut perbaikan dari federasi PSSI agar turut andil dalam program tersebut, khususnya menghadirkan kompetisi jenjang usia sebagai agenda tahunan.

Kini tentu kita berharap momentum kebangkitan Juku Eja tahun ini dapat membawa serta pengaruh ke berbagai aspek termasuk pembinaan usia dini. Kegagalan tampil di pentas Asia tahun depan akibat masalah pembinaan usia dini serta hasil minor PSM U19 harus dijadikan pelajaran berharga dan sebuah pekerjaan rumah yang segera dicarikan solusi. Dengan kondisi dan waktu yang ada tentu kita memaklumi bila program talent scouting masih menjadi jalan keluar, namun itu tidak boleh menjadi sebuah kebiasaan. Pembinaan usia dini yang ideal dan berkesinambungan tentu mebuka jalan agar PSM Makassar menuju status klub profesional seutuhnya, dan menjaga eksistensi Juku Eja di pentas nasional.

#EwakoPSM !!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *