Konsistensi yang Tak Mati, Momentum yang Berumur Panjang

Andi Mawardi Wahab

Andi Mawardi Wahab

Pernah bercita-cita jadi Ronald Fagundez, Penghuni tribun terbuka Mattoanging.
Andi Mawardi Wahab

Latest posts by Andi Mawardi Wahab (see all)

Sebuah perjalanan panjang baru saja berakhir, setidaknya begitu bagi jajaran tim dan pencinta PSM Makassar tahun ini. Perjalanan yang melibatkan emosi dari pekan pertama hingga pekan ke-33 kala menuai antiklimaks “malau temma dara” atau sebuah sakit tanpa setetes darah. Luka yang membawa Juku Eja bertengger di posisi 3 klasemen hanya berjarak 3 point dari peringkat 1 dan 2 yang harus berhitung head to head untuk penasbihan sang jawara liga. Meski misi utama tak terpenuhi untuk mengembalikan piala supremasi tertinggi Liga Indonesia di kota Anging Mammiri bagaimanapun juga cerita perjalanan PSM tahun ini cukup patut dikenang, walaupun bukan cerita sebagai kampiun, setidaknya kenanglah sebagai momentum kembali dengan bonus segudang pelajaran tak ternilai. Setidaknya tangis tahun ini berbeda, jika tahun-tahun sebelumnya tangis di akhir kompetisi karena melihatmu begitu tak berdaya di hadapan tim superior, tahun ini tangis karena jarak tangan dan trofi kurang sejengkal.

Memupuk Konsistensi.

Salah satu keindahan sepakbola yang memang akan selalu ada adalah hadirnya sejuta kemungkinan tak terduga baik dalam 90 menit ataupun dalam 1 musim penuh. Kemungkinan dan keberutungan yang kadang berpihak namun tidak jarang menjauh. Tentu kita ingat bagaimana bagaimana hasil seri 2-2, di pekan 14 kontra Persiba Balikpapan cukup mengejutkan disaat tim-tim pesaing yang sukses meraih poin penuh kala tandang melawan Beruang Madu. Begitupula ketika Juku Eja berhasil melancarkan 21 tembakan saat menjamu Barito Putra di kandang namun harus puas berbagi gol 1-1. Sebuah kisah euforia satu babak menyelimuti kala dominan sebelum turun minum saat dijamu Persija dan Arema di kandangnya, namun harus puas dengan 1 poin saja di ujung laga.

Cerita heroik manakala memborbadir Mutiara Hitam 5-1 sekaligus kemenangan perdana kontra raja liga indonesia tersebut sejak 12 tahun silam. Drama late goal saat mengandaskan Persib dan Mitra Kukar di rumah sendiri. Adapula kemenangan tandang dramatis 3-4 kala dijamu Sriwijaya dan kala membenamkan sang kompetitor juara Bhayangkara dengan skor 0-2. Cerita kala takluk ditangan Pesut Etam di Segiri yang sudah mulai mengubur mimpi juara sebagian suporter namun tersulut kembali kala raihan posiitif dua laga setelahnya. Puncaknya, bagaimana cerita antiklimaks saat mengusai jalannya pertandingan hampir di 90 menit laga kala bersua pesaing juara lainnya Bali United di rumah sendiri, malah kebobolan di menit akhir sekaligus menuda mimpi juara dan memperpanjang puasa gelar. Inilah sepak bola rasa manis dan pahit yang akan selalu ada namun membuat permainan ini indah dan dicintai. Sisi positif bagaimana atmosfer yang begitu luar biasa kembali mengalir di setiap denyut nadi pencinta sepak bola Kota Makassar dan suporter fanatik PSM setahun ini. Bagaiamanapun juga raihan musim ini tentu dimulai dari kerja keras bahkan sejak ISC 2016 silam.

Kosistensilah yang diharapkan dari semua pencapaian hingga hari ini. Konsistensi terhadap atmosfer kekeluargaan dalam tim ditopang EWAKO spirit semoga dapat dijumpai lagi musim depan. Konsisten dengan profesionalitas manajemen dalam meningkatkan faktor pendukung tim mulai dari pemberian informasi up to date melalui sosial media dan web, standar tim pelatih, perangkat pendukung tim mulai fisioterapis, ahli nutrisi, serta konsisten dengan tujuan dan semangat mengembalikkan kejayaan PSM. Konsistensi performa tim sepak bola memang masih berharga mahal di negeri ini, tentu kita ingat cerita Liga Indonesia di awal dekade 2000-an seperti Petrokimia Gresik, Persebaya, dan Persik selepas juara liga malah terseok-seok di musim berikutnya. Contoh terdekat datang dari Persib, Arema, dan Semen Padang yang begitu superior beberapa tahun lalu namun tahun ini hanya finis di papan tengah, bahkan Kabau Sirah harus turun tahta. Konsistensi haruslah dibarengi kaki tetap membumi dan kepala tidak terlalu tinggi terangkat sebab percayalah motivasi tim pesaing musim depan bakal berlipat ganda.

Pekerjaan Rumah

Musim 2017 telah berakhir, saatnya melepas cerita panjang tahun ini dan menatap segudang pekerjaan rumah wajib dituntaskan sebelum genderang Liga 1 2018 ditabuh kembali. Pekerjaan rumah mulai dari bagaimana PSM meski secara posisi klasemen berhak tampil di panggung Asia namun lisensi AFC yang ditolak praktis menunda hal tersebut. Permasalahan lain pula seperti perburuan jersey original Juku Eja yang sempat mempertontonkan drama kecil-kecilan, drama politik praktis, hingga calo tiket pertandingan kandang.

Fanatisme hari ini sangat kontras di tahun 2012-2015 saat PSM hanya “dicintai” segelintir orang manakala bergelut di kompetisi IPL. Pertumbuhan mendadak penonton dan suporter tak diiringi perkembangan fasilitas stadion dan harus takluk pada “hukum ekonomi permintaan-penawaran” membuat tiket pertandingan PSM maupun jersey original musim ini adalah barang langka yang diburu. Kini kita berharap upgrade dalam pengelolaan marchendise hingga ticketing. Hal ini pula yang membuktikan bahwa PSM kini memiliki nilai jual sebagai syarat bertahan di era modern sepak bola industri. Kini tentu PSM wajib melakukan evaluasi baik secara teknis dan non teknis guna menyongsong musim depan. Jeda kompetisi dapat dimanfaatkan sebagai jendela transfer guna semakin meningkatkan performa Juku Eja, tentu gerakan sunyi, senyap, tepat jilid II manajemen seperti musim lalu sangat ditunggu. Perjalanan 34 pekan tentu telah memberi gambaran sektor mana saja yang harus berbenah.

Fokus pada pekerjaan rumah terbesar yaitu penuntasan syarat pembinaan usia dini (grass root) guna meraih lisensi AFC. Mengevaluasi sistem perekrutan pemain usia dini khususnya di kelompok usia U-19 akibat hasil minor dalam kompetisi jenjang usia tersebut. Perdebatan tentang mana yang lebih baik talent scouting atau pembinaan usia dini harus segera menuai solusi. Proses seleksi dalam talent scouting memang menguntungkan kala harus membentuk tim dalam waktu singkat, namun disisi lain pembinaan pemain dalam jenjang usia akan menjaga standar kualitas, menjaga kehidupan luar lapangan, dan melahirkan pemain yang matang seiring waktu. Namun bagaimanapun juga pembinaan pemain sejak dini butuh kesabaran dan prosedur yang jelas. Mungkin saja gabungan pengalaman dari Coach RRA (sebagai mantan direktur teknik di Negeri Jiran dan direktur kepelatihan di Korea Selatan) serta belajar pengelolaan (atau menghidupkan kembali) SSB legendaris kota Anging Mammiri, Makassar Football School 2000 merupakan jalan keluar untuk kesana. Sambil berdoa pula para aparat birokrasi menuntaskan pekerjaan rumahnya sendiri yaitu Stadion Barombong.

Membudayakan Sepakbola.

Berangkat dari hal-hal keindahan sepak bola jugalah banyak mengubah permainan 11 lawan 11 ini. Seperti cerita Roman Abramovich yang tersihir laga Setan Merah vs Real Madrid membuatnya membeli sebagian besar saham London Biru Chelsea beberapa hari setelahnya dan mengubah jadi kekuatan menakutkan di sepak bola Eropa beberapa tahun terakhir. Entah seberapa banyak warga Makassar ataupun Sulsel yang tersihir dari perjalanan PSM musim ini, namun satu hal yang pasti geliat olahraga si kulit bundar kembali begitu bergejolak di kota ini. Okupansi kehadiran penonton di stadion uzur Mattoanging adalah fakta yang mampu berbicara banyak. Cerita panjang perjalanan PSM di Liga 1 tidak menutup kemungkinan sedikit banyak akan mengubah bagaimana pesepakbolaan di Sulsel kedepan. Mulai dari bagaimana kembalinya Juku Eja sebagai tim besar dan wajib diperhitungkan di Indonesia hingga bagaimana “budaya” sepak bola yang mulai tumbuh.

Coach RRA yang sempat diinterview dipertengahan musim oleh Pandit Football memang sempat menuturkan bagaimana budaya sepak bola di Sulsel masih tertinggal jauh, mulai dari stadion dan fasilitas penunjang ataupun bagaimana PSM sebagai satu-satunya tim yang mewakili Sulsel bahkan Sulawesi di ajang tertinggi. Dibandingkan dengan pulau besar lainnya seperti Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Papua yang dimana sukses diwakili minimal lebih dari satu klub. Perkembangan sarana seperti stadion pun sangat baik di luar Sulawesi. Tentu kita berharap dari momentum tahun ini, setidaknya lahir pula segelintir orang yang berpengaruh dan “berpunya” mulai berpikir untuk terjun langsung di sepak bola, berharap tim-tim dari daerah lain yang “menemani” Juku Eja di pentas tertinggi sepak bola nasional, ataupun setidaknya bagaimana keseriusan orang-orang yang berkepentingan dalam membangun fasilitas persepakbolaan, seperti stadion dan pembinaan sepak bola usia dini.

Budaya sepak bola tentu sedikit banyak sudah ditemui tahun ini. Antusiasme dari penjuru Sulsel sangat tinggi, contohnya di laga penentu kontra Bali United. Budaya sepak bola terlihat tumbuh saat di sudut-sudut Kota Makassar mulai obrolan warung kopi membahas PSM hingga hotel berbintang turut mengadakan nonton bareng laga PSM. Budaya sepak bola mulai tumbuh ketika hiburan kini bukan hanya semata-mata berkunjung ke pusat perbelanjaan mewah atau Pantai Losari, tapi juga bersama keluarga menyaksikan Juku Eja berlaga di akhir pekan. Budaya sepak bola mulai tumbuh ketika sebuah tim mampu mempersatukan masyarakat, tentu kita sudah melihat ego yang luntur dari beberapa kelompok suporter fanatik PSM akibat momentum tahun ini, atau bagaimana mempersatukan berbagai suku dalam satu stadion, meskipun stadion yang uzur dan kekecilan. Budaya lahir dari kebiasaan maka dari itu sudah sepatutunya kebiasaan lahir dari momentum tahun ini. Sepak bola yang membudaya tentu akan memberi influence besar bagi pribadi masyarakat maupun lingkungannya.

Federasi yang Sehat

Cerita faktor non teknis tidak kala riuhnya “di luar lapangan” mengiringi perjalanan Liga 1 musim ini, mulai dari regulasi yang sangat sulit diprediksi arahnya kecuali oleh Tuhan dan PSSI sendiri, merupakan cerita dari “kemungkinan” tak terduga lainnya dari sepak bola (khususnya di Indonesia), hanya saja ia lahir dari kesalahan fatal tata kelola liga, dan berdampak pula pada ending cerita Liga 1 yang dianggap paling kompetitif di ASEAN bahkan Asia. Cerita bagaimana regulasi pemain U-23 yang terhapus di tengah musim, hingga bagaimana penggunaan wasit asing yang diharapkan mampu mengubah kualitas liga ujung-ujungnya masih menuai beberapa konflik.

Profesionalitas operator liga dan federasi musim ini tentu masih dipertanyakan. Beberapa keputusan kontroversial yang mengundang tawa tentu membuat kita menertawakan liga sendiri, sungguh sebuah Ironi!!!. Kejadian terbesar tentu bagaimana keputusan sidang komdis memberi poin penuh pada Bhayangkara FC saat laga melawan Mitra Kukar yang berkesudahan 1-1. Candaan juga datang kala di kasta kedua liga diputuskan diadakan play off khusus guna mengatasi persoalaan perolehan jumlah poin yang sama, secara regulasi telah ditetapkan mengunakan sistem head to head namun ternyata salah tafsir akibat penjelasan regulasi tersebut tidak lengkap.

Sangat miris memang bila dilihat bagaiaman begitu kompetitifnya Liga 1 dan Liga 2 musim ini namun sayang masih disertai keputusan kontroversial oleh federasi dan operator liga. Tentu bila atmosfir persaingan yang begitu tinggi dan ketat bukan tidak mungkin akan hadir pesepakbola besar dalam Liga Indonesia, namun tentu mimpi tersebut mustahil terjadi ketika profesionalitas operator dan federasi masih dipertanyakan di setiap akhir musim. Sebagai penikmat sepak bola pembiaran bukannya terjadi namun pilihan yang ada kadang teramat dilematis untuk saat ini, memilih antara “liga yang bercanda” atau “tidak ada liga sama sekali” seperti dikala mencoba ”revolusi” tata keloloa sepak bola Indonesia tahun 2015 silam, namun ego dan konflik kepentingan bermuara pada masa kekosongan federasi dan liga resmi 2015-2016 silam, FIFA tak segan menjatuhkan banned.

Meski dilalui dengan “candaan” operator liga dan diakhiri pula dengan malau temma dara tapi inilah Liga 1 musim ini dengan perjalanan panjangnya. Tegakkan kepala wahai PSM, terima kasih untuk musim 2017 yang luar biasa. Konsistenlah dan jaga momentum indah ini, biarkan “dia” berumur panjang. Juara mungkin tidak untuk tahun ini, namun melihatmu telah bangun dari tidur panjang dan kembali besar adalah hadiah tidak kalah istimewa. Kita besar karena proses, sampai jumpa musim depan, bersama kita coba rebut kembali kejayaan itu.

#EwakoPSM !!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *