Mengenal Steven ‘Daeng Kulle’ Paulle, Palang Pintu Baru PSM

Mahir Pradana

Mahir Pradana

Mahir Pradana. Selalu percaya sepak bola bukan hanya 2 x 45 menit di lapangan hijau, melainkan juga filosofi sederhana yang bisa mengubah hidup manusia. Cintanya terhadap sepak bola tumbuh di stadion bersejarah yang dulu bernama Mattoanging, dan sampai sekarang tetap menjadi pendukung setia PSM.
Mahir Pradana

Steven Paulle adalah pemain asing yang baru direkrut PSM Makassar untuk menghadapi Go-jek Traveloka Liga 1. Masyarakat sepak bola Indonesia bisa dikatakan masih asing dengan pemain kelahiran Cannes, 10 Februari 1986 ini. Namun, ternyata figur Paulle cukup disegani di negaranya, Prancis.

Paulle sendiri sebenarnya bisa tergolong marquee player, mengingat pengalamannya bermain di lebih dari 200 pertandingan Liga Prancis, baik di kasta tertinggi (League 1) maupun kasta kedua (League 2). 100 pertandingan sudah ditempuh Paulle di Cannes, klub yang juga menjadi awal karir dua peraih trofi Piala Dunia, Zinedine Zidane dan Patrick Vieira.

Setelah menghabiskan lima tahun karirnya di ASC Cannes, ia pindah ke Dijon FCO pada tahun 2010. Paulle cukup beruntung, karena pada tahun 2014, Cannes mengalami kebangkrutan sehingga harus dibubarkan. Kini, klub tersebut berdiri kembali dengan memulai perjalanan mereka dari kasta keenam Liga Prancis.

Paulle kemudian menghabiskan 7 tahun di Dijon. klub yang baru berdiri pada tahun 1998 tersebut mencatat sejarah dengan tampil untuk pertama kalinya di League 1 pada musim 2011-2012. Musim tersebut sekaligus menjadi musim tak terlupakan bagi Paulle, dengan mencatat 1.690 menit bermain atau 22 pertandingan di League 1. Sayang, Dijon hanya bertahan satu musim sebelum terpaksa kembali ke League 2. Pada akhir musim 2015-2016, kontrak Paulle habis dan takdir pun membawanya ke belahan dunia lain, yaitu Indonesia.

Reputasi Paulle yang cukup terkenal di Prancis terbukti dari sebuah liputan khusus di halaman web actufoot.com , sebuah media sepak bola Prancis. Liputan tersebut membuat hasil wawancara Actu Foot dengan pemain berkulit kecokelatan ini. Lucunya, paragraf pertama liputan tersebut menceritakan bahwa di tengah-tengah wawancara, Paulle sempat menghilang selama beberapa saat akibat putusnya koneksi internet di rumah yang ditempatinya di Makassar.

“Kadang-kadang, listrik mati total. Sama sekali tak ada aliran listrik dan internet. Anak-anak saya juga belum terlalu terbiasa dengan kehidupan di sini, terutama dengan makanannya,” demikian curhat Paulle kepada Actu Foot.

Paulle memang menuangkan penuh komitmennya bagi dua tahun kontraknya dengan PSM. Pada pertengahan Februari lalu, ia sengaja pulang sebentar ke prancis untuk memboyong istri dan kedua anaknya ke Makassar. Ini tentu saja merupakan bukti profesionalitasnya, meskipun Indonesia masih merupakan negara yang sama sekali asing baginya.

“Satu hal yang membuat saya terkejut: masyarakat Indonesia sangat tergila-gila ada sepak bola! Level sepak bolanya memang berbeda dari Prancis, tapi antusiasme penonton mungkin melebihi Prancis. Ribuan orang memadati lapangan di hari pertama latihan, dan hampir sepuluh kali lipatnya hadir di pertandingan pertama turnamen,” sambung Paulle.

Paulle juga mengutarakan optimismenya tentang persepakbolaan Indonesia di wawancara tersebut. Apalagi, tak lama setelah kedatangannya, Indonesia dilanda demam marquee player.

“Kedatangan Michael Essien membuat suasana persaingan lebih hidup. Hampir semua orang di Indonesia heboh mendengar kabar kedatangannya, tak terkecuali di Makassar. Namun, bagi saya, Essien hanya seorang pemain. Apalagi dia sudah berusia 34 tahun dan masih harus beradaptasi dengan kondisi di sini.”

Paulle menambahkan, “Berita-berita di Indonesia langsung dipenuhi nama-nama seperti (Didier) Drogba dan (Dimitar) Berbatov. Tampaknya Liga Indonesia terinspirasi oleh Liga China, meskipun masih banyak yang harus dibenahi.”

Dari wawancara tersebut, terungkap bahwa pemain yang langsung diberi julukan ‘Daeng Kulle’ oleh warga Makassar ini sempat nyaris bermain di Liga China. Ia mendapat sebuah tawaran beberapa tahun lalu, sebelum kompetisi di negeri tirai bambu segemerlap sekarang. Sayang, negosiasi sebuah klub China dengan Dijon tiba-tiba gagal di saat-saat akhir.

Meski demikian, Paulle tidak terlalu menyesali kegagalan tersebut. Ia malah cukup antusias menghadapi Go-jek Traveloka Liga 1 yang akan bergulir pada pertengahan April 2017 nanti. Apakah dia sudah siap menatap kehidupan barunya selama dua tahun di Makassar?

“Ya, tentu saja,” jawabnya mantap. “Saya harus menghormati kontrak dua tahun itu. Saya akan menjalaninya secara bertahap dan saya akan menikmati setiap kiprah saya di lapangan.”

Di akhir wawancara, Paulle juga sedikit curhat tentang klub masa kecilnya, Cannes, yang bangkrut dan sempat terdampar di CFA (Championnat de France Amateur – Kompetisi Klub-Klub Amatir Prancis). Untuk musim 2016-2017, Cannes berkompetisi di DHR (Division Honneur Mediterranee – kasta keempat di Prancis).

“Bagaimana pun juga, Cannes akan selalu berada di hati saya. Itu adalah klub pertama saya. Saya masih sering berlatih bersama mereka untuk menjaga kebugaran. Jika dua tahun lagi tenaga saya dibutuhkan, saya siap kembali ke Cannes. Meskipun untuk bermain di CFA atau DHR.”

Naskah asli wawancara Seteven Paulle dalam bahasa Prancis bisa dibaca di sini: http://www.actufoot.com/national/steven-paulle-indonesie-fous-de-foot/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *