Potret Anomali PSM Makassar

A. Rafsandi Putra

A. Rafsandi Putra

A full time football enthusiast
A. Rafsandi Putra

Latest posts by A. Rafsandi Putra (see all)

Hela nafas panjang, telan ludah, dan mengangguk saja. Cuma PSM tim yang bisa bikin Anda begitu semringah tiap kali main di Makassar, dan jadi begitu gusar tiap kali bermain jauh dari Makassar. Jika Anda orang-orang yang punya mimpi melihat PSM juara musim ini, Anda pantas dan patut untuk kecewa.

Bayangkan, tim-tim semacam Arema, Sriwijaya, Persija, hingga Persipura dibuat bertekuk lutut dan (salah satu dari mereka) mogok bermain tatkala menghadapi PSM di Makassar. Hasil-hasil ini lho yang bikin Anda senyum-senyum sendiri tiap mau tidur, tiap kali baca kolom olahraga di koran, tiap kali refresh timeline. Hasil-hasil ini. Tiap kali “Berjuanglah PSM-Ku” berkumandang di ujung laga, Anda menyanyi penuh khidmat sambil menutup mata. Ruang udara di stadion tua itu rasa-rasanya beraroma familiar. Otak Anda mengamini bersepakat; Wattunami.

Kasihan, rutinitas-rutinitas itu tampak modar tiap kali PSM mentas di luar Makassar. 3 kalah, 3 seri, dan hanya sekali menang sungguh bertolak belakang dengan tren kandang mereka. Untuk tim yang mampu pecundangi Persipura 5-1, tentu kehilangan poin melawan tim-tim seperti Persegres, Semen Padang, dan Persib, sungguh tidak bisa dimaafkan.

Teranyar, Persiba yang di sepanjang musim hanya berhasil mengumpulkan 4 poin saja, gagal di taklukkan oleh Zulkifli dkk di Balikpapan. Gol adik kandung winger legenda tim Anda di penghujung laga membuat Anda berjingkrak kegirangan, seolah itu kemenangan. Sesaat kemudian Anda sadar dan jadi sangat bersyukur, peringkat 2 Madura United kalah di waktu yang sama sehingga takhta belum beralih dari tangan tim Juku Eja.

Lantas, apa sebenarnya yang salah dari kebanggaan Anda? Apakah memang hanya karena kurang beruntung seperti yang Anda pikirkan, atau tim Anda, sebetulnya, memang tidak sebagus seperti yang Anda khawatirkan?

Untuk menjawab kegelisahan tersebut mari kita tengok poin-poin berikut ini:

  • Persela Lamongan, Persija Jakarta, Persipura Jayapura, dan Arema FC adalah lawan-lawan PSM di Mattoanging yang tidak mengakhiri pertandingan dengan 11 pemain di lapangan disebabkan pemain mereka menerima kartu merah dari pengadil lapangan (masing-masing 1 kartu merah),
  • Tim PSM Makassar berhasil memenangi laga-laga di Mattoanging menghadapi Sriwijaya FC, Bhayangkara FC, dan Pusamania Borneo FC dengan margin satu gol melalui sepakan pinalti,
  • PSM memiliki rataan 2 gol per pertandingan tiap kali bermain di Makassar, berbanding 1,2 gol per pertandingan saat away,
  • Dari 7 pertandingan yang dihelat di Makassar, 4 diantaranya berakhir clean sheet dan hanya 3 kali gawang PSM bergetar. Sementara saat away, mereka kebobolan hampir 4 kali lebih banyak yakni 11 kali,
  • PSM total melepaskan 107 kali tembakan dimana 51 diantaranya mengarah ke gawang saat mentas di Mattonging, sementara menghasilkan 83 tembakan dan hanya 28 yang on target saat mentas di luar kandang (diluar vs perseru)

Walau dengan catatan tambahan bahwa pemain PSM juga menerima kartu merah saat melawan Persija dan Persela, jangan naik darah bila suporter tim lain melabeli tim Anda jago kandang serta berpendapat kalau tim Anda hanya menang beruntung dengan bantuan “sempritan” wasit. No penalties or red cards, no party. Right?

Angka-angka yang didapatkan dari psmstats diatas cukup untuk buktikan bahwa terjadi anomali di dalam tim merah ini. Performa PSM saat tandang tidak semenggigit saat bermain kandang. Padahal, hampir di tiap laga tandang Robert Rene Albert menargetkan 3 poin kepada anak asuhnya. Akan tetapi di rumput orang, Hamka hamzah dkk tampak tersihir, tidak berdaya. Fenomena ini jelas tidak lumrah jika tim yang Anda dukung sedang mempimpin perburuan juara liga.

Timpangnya tren kandang-tandang ini menuai banyak tanda tanya dari banyak kalangan dan coba mencari argumen untuk menjelaskan fenomena ini. Ada yang bilang, dukungan pendukung dan suporter di Mattoanging memberikan suntikan semangat yang luar biasa kepada panji-panji keseblasan PSM. Namun, alasan karena faktor suporter ini terdengar terlalu klise. Anda tentu sadar, PSM tidak mungkin main di Mattoanging tiap pekan. Dan Anda pun tidak mungkin penuhi stadion orang tiap pertandingan, bukan?

Satu pencapaian yang mungkin bikin Anda sedikit tenang (juga bangga) ialah PSM menjadi tim yang selalu mencetak gol di tiap pertandingan, baik home maupun away. Mengkhawatirkannya, PSM selalu tampak beringas dan meyakinkan bila bermain di kandang dengan sukses menyapu bersih seluruh poin yang mungkin diraih (21 poin), dan justru kehilangan karakter dan arah setiap bermain tandang dengan hanya meraih 6 poin dari kemungkinan 21 poin. Semakin kuat kita mencari motif di balik anomali ini, semakin terang satu kecemasan: jangan-jangan memang tim Anda tidak sebagus yang Anda kira. Menggelisahkan kan?

Anomali sudah seyogyanya membawa kegelisahan dan kekhawatiran. Terjadinya anomali kerap sukar untuk dipahami. Contohnya anomali cuaca yang tak jarang terjadi. Tanpa ilmu yang cukup dalam, sulit untuk menjelaskan bagaimana sebuah negara sub tropis kadang mengalami perubahan cuaca mendadak berkali-kali dalam satu hari. Pun anomali pada kompetisi sepakbola. Sebuah tim yang mampu meraup poin penuh dan bermain spartan setiap bermain di rumah sendiri tiba-tiba menyimpang dari “kebiasaan yang seharusnya” saat bermain di tandang sungguh sulit dijelaskan secara ilmu awam sepakbola bahkan cenderung “dilazimkan” dan dianggap normal.

Melihat anomali performa dan posisi klasemen PSM saat ini, layaknya melihat gajah bergelantungan di atas pohon. Aneh dan sangat mengkhawatirkan. Anda tidak mengantisipasi bagaimana ia bisa sampai disana. Tetapi yang Anda tahu, ia tidak akan bertahan lama. Inkonsistensi pasukan ramang tentu mengkhawatirkan Anda dan teman-teman Anda sesama pendukung. Jika masih tetap seperti itu dan tidak cepat-cepat berbenah, entah cengkraman gajah itu akan melemah atau faktor lainnya seperti angin atau gigitan semut di jari-jarinya, yang akan menjatuhkannya.

Untuk menjadi juara, tidak pernah cukup menjadi cukup baik. Pun tidak bisa terus-terusan bersandar pada keberuntungan sembari berharap rival-rival terjungkal. Konsisten adalah atribut pokok dalam pembentukan mental juara. Sir Alexander Chapman Ferguson, seorang pelatih sukses di Inggris dan sangat terkenal mampu membangun tim bermental juara pernah mengatakan,  “Juara sejati adalah mereka yang berhasil keluar dari tekanan dan menunjukkan nilai asli mereka setelah keterpurukan yang diderita”. Robert bersama PSM-nya masih harus membuktikan hal ini.

14 pekan di Liga 1, PSM (ajaibnya) masih di peringkat satu dengan koleksi 27 poin. Rasanya tidak wah lagi mengingat peringkat 14 klasemen cuma terpaut 9 poin di bawah mereka. Tim-tim di belakang mereka sudah menyalakan lampu sen dan siap menyalip kapan saja. Kendor sedikit, dampuk pimpinan dapat berpindah tangan sekedipan mata. Siapapun masih bisa memenangkan perebutan dampuk ini, dan sebagai pemimpin, mempertahankan selalu lebih sulit dari merebut.

Tulisan ini bukan tulisan pembunuh mimpi. Tulisan ini hanya pengingat untuk selalu pantang jemawa. Serta cambukan untuk selalu membumi. Percaya diri dan optimis boleh, takabur jangan. Kompetisi sedikit lagi sampai di titik tengah. Dan tulisan ini belum sampai di kesimpulan.

Tapi untuk saat ini, kelihatannya PSM seperti yang kalian khawatirkan. Berdoalah sembari berharap, pohon itu cukup kokoh menopang berat si gajah, setidaknya kurang lebih 20 minggu lagi.

Hela nafas panjang, telan ludah, dan mengangguk saja.