Seperti Kita yang Dulu

Andi Mawardi Wahab

Andi Mawardi Wahab

Pernah bercita-cita jadi Ronald Fagundez, Penghuni tribun terbuka Mattoanging.
Andi Mawardi Wahab

Latest posts by Andi Mawardi Wahab (see all)

 

“Dehh sesak na di’, ramai sekali stadion kayak dulu, kayak kita yang dulu, PSM yang dulu” itu penggalan ucapan salah seorang penonton laga PSM kontra Borneo FC kemarin sesaat kick-off dimulai yang duduk di belakang saya, siapapun Anda saya setuju tanpa syarat.

 

Bertakhta selama sebelas pekan menjadi begitu luar biasa bagi pencinta PSM Makassar, sebabnya tentu saja sudah begitu lama bisa melihat kembali PSM begitu perkasa di kompetisi tertinggi di negeri ini. Mungkin terakhir kali tim Juku Eja masih begitu disegani ketika format liga masih dua wilayah. PSM masih menjadi momok bersama Persipura dan Persebaya sebagai perwakilan wilayah timur, namun itu hampir sepuluh tahun yang lalu, namun lihatlah sekarang, tim-tim lain mulai kembali meperhitungkan klub tertua ini. Jika beberapa tahun belakangan mereka dengan lancang menarget poin penuh di Makassar maka sekarang mereka tentu sudah cukup puas dengan hasil imbang. Jika mereka dulu dengan lancang tidak memasukkan PSM sebagai kandidat juara, maka lihatlah sekarang Juku Eja terdepan dalam urusan kandidat juara.

 

Bagaimanapun juga semua kegembiraan ini masih fana dan sementara untuk saat ini. Jalan masih panjang, masih sangat panjang. Kondisi klasemen yang ada hingga pekan ke-11 tentu masih mengkhawatirkan yang hanya dengan “kerikil kecil” saja PSM bahkan bisa terlempar keluar dari posisi 5 besar hanya dalam 2-3 laga berikutnya.

 

Keras dan Cepat

 

Tentu kita masih tersihir roman-roman indah dari kisah Ramang yang melegenda menjadi sosok penting dari kisah kejayaan lampau PSM di era perserikatan kala menjadi raja sepak bola tanah air. Kita masih terbuai cerita kejayaan PSM kala berhasil mencapai fase 8 besar Liga Champion Asia tahun 2000, serta memori yang masih tersimpan rapi kala terakhir kali menjuarai Liga tertinggi di Indonesia 1999/2000 dan menjadi tim paling sering menduduki posisi runner-up kala format LIGINA diterapkan. Bila menarik benang merah dari kisah tersebut, kesimpulanya adalah ketika Berjaya PSM Makassar bermain dengan ciri keras dan cepat.

 

Sosok pemuda dengan postur yang tidak terlalu besar tanpa skill mumpuni namun dengan permainan ngotot dan spartan berhasil mencuri perhatian kala melakukan debut 16 tahun silam. Sosok itu kini begitu dicintai dengan image pemain energik dialah sosok Syamsul Haeruddin yang kini menjadi legenda dicintai suporter PSM. Permainan keras cepat dan keras takkan bisa dipisahkan dari PSM, sama seperti filosofi sepak bola indah dengan ciri khas menggocek bola sambil menari dari negeri samba Brazil atau sepak bola cepat dan efisien milik tim panser Jerman.

 

Kini liga 1 2017, ciri khas bermain cepat dan keras telah kembali dalam ritme bermain PSM, dengan paduan pemain lokal, pemain nasional, dan pemain asing. Kekokohan lini belakang PSM dalam sepertiga awal perjalanan liga tentu patut diapresiasi dari tiga laga kandang melawan Arema, Sriwijaya, dan Borneo sang lawan gagal melancarkan satupun shoot on target, dan ketika bersua persija hanya sebiji Shoot on target yang berhasil dilepaskan. Kebobolan 9 gol dari sebelas laga hanya kalah baik dari Persija (5), Arema (8), dan Persib (8) menjadi catatan yang tidak terlalu buruk. Duet berkarakter keras dan taktis Hamka dan Paulle yang padu, dengan pelapis Hendra dan Ardan serta Wasyiat tentu menjadi garansi pertahanan dengan catatan terus konsisten. Kecepatan dari wing back saat overlapping oleh Zulkifli, Faturrahman, dan Reva serta seimbang kala menjaga pertahanan di fase bertahan.

 

Dari lini tengah karakter cepat dan keras sukses terjaga dalam sosok ramang muda yang tengah naik daun Asnawi dan Arfan, serta yang terbaru Nurhidayat. Dipadu dengan pemain impor idola baru pujaan publik Makassar Marc Klok yang tidak kalah energik dan spartan, dilapis oleh pemain senior yang sudah terkenal berkarakter keras seperti Rizky Pellu dan Syamsul Haeruddin. Dari posisi sayap kecepatan menjadi senjata utama kala Rahmat begitu kencang berlalari menyisir sisi luar lapangan bersama Ghozali, Ridwan dan Romario. Dari juru gedor berkarakter keras dan cepat dijamin oleh Tibo dan Ferdinand dengan striker tenang Reinaldo. Tentu ini menjadi padu kala sosok Pluim dan Rasyid menjamin kerativitas serangan kala tidak dimatikan dengan baik oleh lawan.

 

Karakter inilah yang turut memberikan efek terbesar dalam capaian hingga sepertiga kompetisi saat ini. Tentu ini telah memngingatkan kita kala masa kejayaan PSM dulu kala menjadi tim yang disegani. PSM bermain cepat dan keras? sangat seperti kita yang dulu!

 

Ramang Muda dan Lumbung Gelandang

 

PSSI mengeluarkan beberapa regulasi kontroversial sesaat sebelum liga bergulir seperti aturan marque player dan regulasi U-23 serta batasan pemain berusia 35 tahun. Aturan yang tidak sedikit mempertanyakan dari segi urgensi dan efek aturan tersebut. Coach Robert bahkan melontarkan statement yang menyebutkan regulasi pemain U-23 yang dapat mengurangi kualitas liga. Aturan ini memang sedikit menganggu persiapan Juku Eja dimana baru disahkan saat deadline digulirkannya liga yang menganggu skuat yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Namun seiring berjalannya waktu ditambah badai cedera yang menimpa Rasyid, Saiful, serta Tibo juga Ferdinand dan Ridwan diawal kompetisi regulasi U-23 tersebut menjadi buah simalakama yang positif.

 

Berbekal pengalaman merantau di Persiba ISC lalu Asnawi serta Wasyiat, Ridwan, Reva, Andri, dan Syaiful yang sudah kerap mengisi skuat Juku Eja di ISC lalu tentu sudah memiliki bekal, ditambah debutan Arfan, Romario, dan Nurhidayat. Namun yang lebih menggembirakan bagaimana permainan impresif mereka yang mengalami kemajuan sampai pekan ke-11 liga. Arfan, Asnawi, dan Reva menjadi 3 pemain U-23 yang paling sering dimainkan hingga pekan-11. Kehadiran ramang-ramang muda ini bukan hanya sekedar memenuhi tuntutan regulasi namun mereka juga mampu menjadi peran sentral kala diturunkan dan tidak jarang pula bermain 90 menit penuh.

 

Kegemaran PSM dalam mengorbitkan pemain muda tentu mengingatkan bagaimana PSM dulu dan bagaimana PSM yang seharusnya terlebih mereka adalah putra daerah yang masih begitu “hijau” namun begitu bertalenta. Tentu kita masih ingat Syamsul, Rasyid, dan Rahmat adalah buah produk dari kegemaran ini. Dan bagaimana kita memetik buah dari memberikan kepercayaan pada pemain muda dari mereka sekarang ini.

 

Selain Mengorbitkan pemain muda, kita juga telah kembali seperti yang dulu yaitu memiliki pemain bertalenta posisi sentral, energik, dan spartan di posisi gelandang tengah. Syamsul belum habis, Rasyid tengah berada di usia emas namun regenerasi mereka sudah muncul ke permukaan bukan cuma satu namun tiga sekaligus yaitu Asnawi, Arfan, dan Nurhidayat. Seperti PSM yang dulu yang selalu memunculkan gelandang-gelandang tengah energik semisal Marwal Iskandar, Diva Tarkas, Akbar Rasyid ataupun Asri Akbar.

 

Mattoanging Seperti yang Dulu

 

November 2015, Sepasang gol dari “Si Kurus” Kurniawan dan Miro Baldo Bento mengantarkan “PSM Juara 2000” mengguguli “PSM All Stars” 2-1, pertandingan yang sesungguhnya tidak menawarkan “keseruan” seperti laga el classico dari negeri matador Spanyol atau laga derby della madoninna dari negara pizza Italia, meski demikian bagi yang hadir malam itu, ini sebuah laga istimewa yang membuat déjà vu ketika sepasang nama pencetak gol yang rajin menghiasi tagline koran-koran lokal dan nasional 15 tahun yang lalu ketika dua pemain tersebut membombardir lawan-lawan PSM sekaligus mampu mengingatkan bahwa betapa besarnya “tim merah” ini dulu. Laga yang tak terlalu mencuri perhatian Indonesia, bahkan termasuk warga makassar sendiri, Stadion uzur berkarat Mattoanging sepi peminat malam itu padahal kita sedang merayakan 100 Tahun kelahiran, tim pertama yang merayakan di negeri ini, meski sepi momen itu mengingatkan betapa melegendanya “tim merah” ini.

 

Juni 2017, Lantuman anthem  “Berjuanglah PSM-ku” menyudahi laga PSM kontra Borneo, penonton berdiri mengangkat tangan, syal, atau apapun yang sedang dipegang. Sepakan bomber impor Reinaldo dari titik putih mengantarkan PSM kembali ke takhta pekan ke-11 Liga 1 Indonesia. Sepertiga jalan yang luar biasa bisa duduk manis dipuncak selama 11 pekan. Penonton yang hadir kurang lebih 14.000 bersuka cita merayakan kemenangan. Kondisi sangat kontras dengan jumlah hadirin kala momen 100 tahun, November 2015 silam dengan selisih waktu hanya sekitar 1 setengah tahun.

 

Memang kini PSM tengah menikmati masa-masa penuh puji, ketika telah dibawa kembali ke masa-masa dimana PSM adalah tim yang kembali disegani. Mattoanging kembali penuh sesak, yah itu seperti kita yang dulu, tukang parkir dan para calo tiket menaikkan harga sesuka hati mereka, yah itu seperti kita yang dulu. Stadion sudah terisi dua jam sebelum kick off, yah itu seperti kita yang dulu. Para warga Sul-Sel yang berdomisili di luar Makassar rela jauh-jauh datang demi melihat PSM berlaga, yah itu seperti kita yang dulu. Anak-anak usia belia hingga orang-orang dewasa kini bangga mengenakan jersey PSM dan segala atribut berbau PSM ditengah-tengah kota Makassar meskipun bukan hari laga PSM, yah itu seperti kita yang dulu.

 

Para suporter dari tribun terbuka hingga tertutup kini lebih semangat bernyanyi demi PSM, yah itu seperti kita yang dulu. Para elit-elit politik mencari-cari kesempatan untuk nebeng di nama besar PSM yang tengah naik daun, maaf-maaf saja itu sudah dari dulu. Bahkan seluruh kelompok suporter kini rela melepas gengsi kelompok mereka demi bernyanyi satu lagu PSM anthem dan berkoreo satu aksi, yah itu seperti kita yang dulu. Kita yang dulu kala menganggap PSM sebagai pemersatu bukan sebagai pemecah belah, yah itulah kita yang dulu. Meskipun demikian mereka yang tetap cinta PSM meski tengah jago-jagonya atau terpuruk sekalipun, Anda tetap yang terbaik entah dulu, kemarin, atau sekarang, bahkan esok Anda lah yang terbaik.

 

Bagaiamanapun juga perjalanan masih panjang kawan, terima kasih manajemen, terima kasih pahlawan. Ingat target Juara. Karena bagaimanapun juga yang dulu PSM sering JUARA. Membumilah PSM, tapi jangan kasi kendor.

 

EWAKO PSM !!!