Mengenang Lawatan Internasional PSM ke Bangladesh

M Dahlan Abubakar

M Dahlan Abubakar

Ketua Yayasan Lembaga Pers Sulsel
M Dahlan Abubakar

Latest posts by M Dahlan Abubakar (see all)

Meski Kalah, Rebut Tiga Terbaik

Suasana di Hotel Sheraton kian ramai oleh wartawan pasca pertandingan semi final. Pasalnya, mereka berusaha mengorek informasi perihal persiapan dua tim final yang kebetulan sama-sama menginap di hotel bintang lima itu. Kehadiran wartawan Bangladeh di hotel ini kontras dengan ketika PSM tiba di Dhaka yang dipandang sebelah mata. Di hotel pemain antardua tim finalis tetap memperlihatkan keramahtamahan. Apalagi sama-sama dari negara Asia Tenggara yang tergabung dalam Association of South East Asian Nation (ASEAN).

Kalau PSM menang atas juara Bangladesh, Mohammaden Sporting Club 4-2 di semi final, Malaysia A menang adu penatli 6-3 atas runner up Piala Bangladesh 1996, Abahani. Ini jelas memperlihatkan keperkasaan kiper Malaysia Azmar Amier mengawal jalanya. Pada pertandingan 2 x 45 menit dan perpanjangan waktu, kedua tim bermain imbang, 2-2.

Tanggal 10 Januari, saat final pun tiba. Setengah main, kedudukan masih kacamata, 0-0. Dari luar lapangan, pelatih M.Basri melihat banyak bola ‘’tidak mau jadi’’. Bola Izaak Fatari dan Arief Kamaruddin selalu tidak terarah. Sampai-sampai terlontar dari mulutnya,’’ kalau begini harus ada orang yang balik celana’’. Maksudnya, agar situasi di lapangan terbalik (menjadi gol).

‘’Tapi, siapa yang mau balik celana. Kalau saya, jelas tidak mungkin,’’ komentar Basri usai pertandingan.

Pelatih Malaysia Irvan bin Batik hanya terlihat bercanda saja dengan anak asuhannya saat turun minum. Mungkin juga asisten pelatihnya yang banyak memberi pengarahan. Ansar Abdullah yang mengawal jala PSM, jatuh bangun mempertahankan jaringnya agar tidak bergetar. Serangan gencar lawan akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-56. Sebelas menit kemudian gawang PSM yang sudah berganti penjaga ke Herman Kadiaman, bobol lagi kedua kalinya, 2-0 untuk Malaysia.

Tujuh menit menjelang bubar, menit ke-83, PSM memperkecil kekalahannya menjadi 1-2 melalui Musa Kallon hasil tembakan dari luar kotak penalti yang kebetulan menghantam mistar. Bola yang melenting malah bergulir masuk ke jala Malaysia, skor berubah menjadi 1-2.

Kemenangan ini memotivasi pemain PSM habis-habisan dengan tenaga tersisa. Musa Kallon, Ronny Ririn, dan Herman Kadiaman jatuh bangun mempertahankan daerah dan gawangnya. Pemain sudah mengerahkan kemampuan terbaiknya dengan susah payah, namun skor akhir tidak berubah. Tetap 2-1 untuk kemenangan Malaysia A, sekaligus memboyong Piala Bangabandhu 1996.

Opini masyarakat Kota Dhaka menjagokan Indonesia (PSM) juara. Ini ditandai tulisan yang terpampang ‘’Indonesia the Champion’’. Ketika berekreasi ke Sungai Buryganga, setiap masyarakat mengetahui kami dari Indonesia, selalu mengacungkan jempol. Mungkin karena menganggap, PSM telah mampu membuat tim kebanggaan mereka bertekut lutut.

Pelatih Malaysia Irvan bin Batik mengakui kepada saya, dia mempelajari permainan PSM ketika melawan Mohammedan Sporting Club. Pada babak pertama, pelatih berdarah China-Melayu ini mengakui, timnya yang merupakan ‘’liga selection’’ tersebut sempat kelabakan.  Pemainnya tertekan. Di babak kedua, dia menggunakan perangkap dengan cara pemainnya diinstruksikan melempar bola-bola panjang, sehingga yang menentukan adalah pemain dengan kekuatan lari ke daerah PSM. Taktik ini ternyata jitu, karena pemain belakang PSM banyak mengalami cedera.

Tetapi terlepas dari kekalahan PSM itu, salah seorang sopir Bangladesh yang juga pengemudi Kol.Suharnanto menilai, partai PSM vs Mohammedan, justru ‘’the best match’’ (pertandingan terbaik) selama turnamen yang menghadirkan 14 kesebelasan tersebut.

Meski tidak juara, PSM dalam turnamen ini manggaet tiga predikat terbaik. Sebagai tim favorit, pemain terbaik (Luciano Leandro) dan pencetak gol terbanyak (Izaak Fatari dan Musa Kallon)  Lima pemain PSM, dilirik East Bengal, Calcutta India, peringkat kesatu Piala Phillips India. Kabarnya, pemain PSM itu didaulat memperkuat tim ini menghadapi Piala Nasional India Februari-Maret 1997 itu. Luciano sendiri malah diincar kesebelasan Abahani Bangladesh. Seorang wartawan Bangladesh sempat menanyakan ‘’harga’’ Luciano ketika pertama ditarik ke PSM.

Ketika kembali ke Indonesia 11 Januari 1997 tengah malam, bertepatan dengan hari pertama Ramadan (terpaksa sahur di atas pesawat), saya sempat menanyakan kepada pelatih Malaysia A, Irvan bin Batik, perihal timnya. Dia menjelaskan, timnya terdiri atas pemain pilihan dari seluruh klub di negara-negara bagian Malaysia. Seorang asisten pelatih Malaysia justru mengalihkan pertanyaan kepada saya perihal ‘nilai’ Luciano Leandro.

‘’Dia (Luciano) pemain bintang yang dimiliki PSM,’’ akuinya sebelum pesawat terbang meninggalkan Dhaka menuju Singapura. (*).