Mengenang Lawatan Internasional PSM ke Bangladesh

M Dahlan Abubakar

M Dahlan Abubakar

Ketua Yayasan Lembaga Pers Sulsel
M Dahlan Abubakar

Latest posts by M Dahlan Abubakar (see all)

Simulasi tiga batu hitam

Pada tanggal 8 Januari, PSM berhadapan dengan tim tuan rumah Mohammedan Sporting Club. Pada diskusi sore menjelang pertandingan, Basri yang lupa bawa spidol terpaksa menerima tiga biji batu hitam dari Izaak Fatari. Tiga batu ini disimbolkan sebagai tiga pemain PSM, Musa Kallon, Charles Lionga, dan Izaak Fatari. Basri memain-mainkan tangannya ketika menyimulasikan pergerakan ketiganya di daerah lawan dan Lionga yang harus naik turun ke daerah lawan dan daerah sendiri. Basri menjelaskan kepada saya, tiga jam mereka habiskan buat memasang strategi melawan tuan rumah sehari sebelumnya dengan simulasi tiga batu hitam itu.

Layaknya sudah jadi rumus, gerak cepat serangan PSM selalu membuahkan hasil. Menit ke-26 Izaak Fatari sudah menggetarkan jalan tuan rumah, meski tuan rumah sempat mencuri gol lebih awal enam menit sebelumnya. PSM kemudian unggul 2-1 pada menit ke-38, ketika Syamsuddin Battola melepaskan tendangan bebas lambung dari luar kotak terlarang. Izaak Fatari sempat menjemput bola yang sempat liar beberapa kali, namun Izaak terus menguber dan melepaskan tembakan keras ke gawang Bangladesh yang dikawal Ponir.

‘’Gol ini sempat membuat penonton tuan rumah ‘shock’,’’ tulis The Daily Star keesokan harinya.

Pada menit ke-61, terjadi scrimmage (perebutan bola di depan gawang) beberapa kali. Bola sempat mental dari mistar dan membuat penjaga gawang out position (posisi tidak tepat). Pada bola mental kedua, Musa Kallon berhasil menusukkan bola ke bagian dalam tiang gawang sebelah kiri kiper yang tidak.terkawal, masuk, posisi 3-1.

Melihat penampilan PSM yang sangat brilian ini, ada yang unik dari penonton tuan rumah. Mereka malah berbalik mendukung tim tamu. Ini adalah perilaku positif penonton tuan rumah terhadap tim tamu yang mungkin langka terjadi. Apa lagi di Indonesia yang tetap menjaga fanatisme gilanya pada tim kebanggaannya meskipun bermain buruk.

Musa Kallon hari itu bermain gemilang, mungkin benar-benar menerapkan strategi tiga batu hitam yang disimulasi 7 Januari pagi di hotel. Pada menit ke-80 dia mencetak gol kedua, sehingga PSM melaju 4-1.

Ketinggalan 1-4, tuan rumah menarik keluar pemain asing asal Nigeria-nya Makino, Dia dianggap sebagai sasaran empuk pengawalan super ketat pemain belakang PSM, sehingga tidak berkutik di depan Bahar Muharram dan Yoseph Wijaya. Masuknya Rajan yang menggantikan Makino, rupanya berbuah positif. Tiga menit setelah Kallon mencetak gol, dia berhasil memperkecil kekalahan timnya menjadi 2-4, Luciano hampir saja menambah satu gol lagi pada injury time (saat-saat kritis).

Kemenangan PSM ini selain disaksikan PM Bangladesh Syeikh Hasina, juga Dubes Indonesia di Dhaka, Hadi Ahmad Wayarabi Alhadar yang tidak henti-hentinya menerima ucapan selamat dari pejabat Bangladesh, karena keberhasilan Indonesia masuk final Bangabandhu Cup menjajal Malaysia setelah mengalahkan juara Bangladesh 1996. .

‘’Terima kasih, kalian sudah bermain sangat gemilang. Anda semua telah membawa nama Indonesia begitu cemerlang dalam pertandingan ini,’’ ujar Hadi Ahmad Wayarabi.

Atase Pertahanan KBRI Dhaka, Kol.CZI Suharnanto yang selama tim PSM di Bangladesh selalu memberi fasilitas yang luar biasa, sempat mengucurkan airmata melihat penampilan anak-anak PSM. Pak Nanto, begitu biasa dia disapa, PSM pada awalnya tidak dianggap sama sekali dalam pertandingan ini. Tim ‘’ikan merah; ini dianggap sebagai underdog (tidak diunggulkan).

Dalam jumpa pers usai pertandingan, pelatih M.Basri dan saya juga hadir. Pelatih tuan rumah asal Korea Selatan Man Yong Kan sempat mengeluh.

‘’Kami bingung ketika kedua ujung tombak Nigeria dimatikan,’’ katanya.

Tetapi lain dengan Basri.

‘’Saya bangga, bukan karena PSM memetik kemenangan dalam pertandingan ini, melainkan  anak-anak begitu bersih dan jitu melaksanakan strategi yang diterapkan,’’ ungkap mantan pemain PSM yang juga pemain nasional ini.

Bagi Izaak Fatari yang beberapa tahun kemudian meninggal ketika dalam perjalanan di laut di perairan Sorong, lain lagi ceritanya. Dia menilai, simulasi dengan tiga batu hitam tersebut benar-benar sangat transparan dalam mematikan gerakan lawan. Keberhasilan PSM inilah mungkin yang menarik perhatian runner up Liga Bangladesh 1996, Abahani Sangsad Krira Chakra yang juga milik partai yang berkuasa (saat itu) pimpinan PM Syeikh Hasina, kabarnya melirik pelatih PSM, M.Basri dan Luciano Leandro.